Badak Jawa Musofa Mati di JRSCA Ujung Kulon, Kekhawatiran Program Konservasi Menguat

Sabtu, 29 November 2025 19:24|

Ujung Kulon, Sabtu, 29 November 2025 – Seekor Badak Jawa jantan yang dikenal bernama Musofa dilaporkan mati di Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) Legon Pakis, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK). Kematian Musofa, yang merupakan bagian dari program translokasi dan pelestarian, menjadi perhatian serius mengingat status kritis Badak Jawa sebagai spesies yang sangat terancam punah.

Kabar duka ini mulai beredar luas di media nasional pada Kamis, 27 November 2025. Musofa sebelumnya dipindahkan ke JRSCA sebagai bagian dari upaya konservasi untuk meningkatkan populasi Badak Jawa.

Tanggapan Balai TNUK: Diduga Akibat Penyakit Kronis
Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, membenarkan kabar kematian badak tersebut. Menurutnya, kematian Musofa diduga disebabkan oleh penyakit kronis yang tidak dapat diatasi, meskipun kondisi badak saat translokasi awalnya dinyatakan sehat.

Saat dikonfirmasi lebih lanjut, Ardi Andono menyatakan bahwa penanganan kasus ini telah dilakukan oleh tim ahli.

“Itu sudah ditangani oleh para ahli semua. Silakan dicermati, sudah ada di beberapa website dan IG kami. Ini link-nya (@btn_ujung_kulon),” tutup Kepala Balai TNUK, merujuk pada kanal komunikasi resmi Balai untuk informasi detail.

Kekhawatiran Pemerhati Lokal
Program konservasi Badak Jawa di JRSCA telah memicu pro dan kontra di kalangan pemerhati lingkungan, termasuk warga lokal Ujung Kulon.

Mirza, seorang Pemerhati dan warga pribumi Ujung Kulon, mengungkapkan kekhawatiran yang telah ia rasakan sejak awal program bergulir. Ia menyoroti perbedaan karakter Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dibandingkan spesies lain, seperti Badak Sumatera.

“Sejak awal pembangunan proyek JRSCA dan program translokasi badak bergulir, terus terang saya khawatir rencana besar itu mengalami kegagalan,” kata Mirza. “Pasalnya, karakter Badak Sunda (Badak Jawa) itu kan berbeda dengan spesies badak manapun, termasuk Badak Sumatera yang bisa dijinakkan dan berkembang biak di dalam penangkaran.”

Mirza menambahkan bahwa kekhawatirannya sempat mereda setelah Balai TNUK merilis informasi pers yang menunjukkan proses awal translokasi berjalan baik, yang seolah membantah isu kematian Musofa yang sempat santer.

“Saya pun makin merasa optimis karena press release itu seolah menjawab isu kematian badak Musofa yang sempat heboh di kalangan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Namun tak lama kemudian, seperti mendengar petir di siang bolong, saya sangat terkejut membaca kabar buruk tentang kematian badak Musofa,” ungkapnya.

(Red/Purwanto)

Bagikan Link:

Berita Populer

  • Tragedi Wisata Rombongan TK di Ragunan: Seorang Siswa Meninggal Dunia Terlindas Bus, Keluarga Menuntut Keadilan

    Rabu, 21 Oktober 2026 08:04
  • ROTASI BESAR POLRI: KAPOLDA METRO JAYA HINGGA KABARESKRIM BERGANTI

    Minggu, 4 Oktober 2026 16:20
  • Proyek Drainase U-dith di Tangerang Rusak Jaringan Telkom, Kinerja Kontraktor dan Dinas PUPR Banten Disorot

    Selasa, 29 September 2026 18:20
  • Kasus Narkotika di Kutim: Terbukti Kuasai Sabu 0,30 Gram, Hotman Divonis 7 Tahun 6 Bulan Penjara

    Jumat, 11 September 2026 13:08
  • Proyek Pedestrian Rp10,8 Miliar DPUPR Banten Menuai Sorotan: Diduga Asal Jadi, Makan Korban, hingga Diwarnai Pemotongan Kabel

    Senin, 31 Agustus 2026 15:39